Tujuan
Tujuan
pemeriksaan agregasi trombosit adalah untuk mendeteksi abnormalitas fungsi
trombosit.
Metode
- Tes agregasi trombosit (TAT) metode turbidimetrik
Metoda turbidimetrik
berdasarkan perubahan transmisi cahaya. Cara ini merupakan metoda pemeriksaan
agregasi trombosit yang paling sering dipakai. Bahan yang digunakan adalah Platelet
Rich Plasma (PRP). PRP diinkubasi pada suhu 37°C dan diaduk dengan stirrer.
Apabila ditambahkan induktor, maka trombosit akan beragregasi sehingga, transmisi
cahaya melalui PRP meningkat. Perubahan transmisi cahaya ini dapat direkam dan
dicetak, dan dinilai berdasarkan puncak dan bentuk kurva yang terbentuk.
Trombosit
dalam keadan normal tidak mudah untuk berlekatan. Hal ini dapat dilihat pada
gambaran sediaan apus darah tepi. Namun apabila darah dengan anticoagulan
citras tersebut diberi penambahan inductor atau agnist ADP kemudian didiamkan 3
menit dan dibuat sediaan apus darah tepi maka trombosit akan beragregasi dan
akan tampak agregat atau kelompok-kelompok trombosit. Setelah melalui
pengecatan giemsa dapat dilakukan perhitungan dengan cara mikroskopik.
Nilai Normal
Nilai normal agregasi metode TAT ADP 1, 2, 5 dan 10 μM berturut-turut : 3 – 15% ; 11 – 36% ; 25 – 68% dan 49 – 84%.
Nilai normal agregasi metode apusan darah tepi adalah 50-70%
Alat Dan bahan
- Spuit 10. Tip
2. Tourniquet 11. Pipet volumetric 5 ml
3. Tabung reaksi 12. Pipet volumetric 500 ml
4. Pipet 13. Stir bar
5. Objek glass 14. centrifuge
6. Mikroskop 15. Cup eppendorf 500 ml
7. Counter 16. Pipet semiotomatik variable 10-100 ml
8. Kuvet 17. Agregometer chrono-log
9. Tabung vakum natrium citrate 3,8%
- Darah vena
- Cat giemsa
- Buffer
- Methanol
- NaCl 0,9% steril
- Reagen komersial yang mengandung 2,5mg ADP lyophilized (chrono-par & chrono-lume)
- Larutan ADP konsentrasi 10µM
Pembahasan
Uji agregasi trombosit dilakukan untuk mengukur
kemampuan trombosit saat berlekatan satu sama lain ketika bercampur dengan
agen pengagregasi, seperti kolagen, ADP atau ristosetin. Uji ini
dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas fungsi trombosit dan untuk
membantu mendiagnosis defisiensi trombosit herediter. Peningkatan
kecenderungan pendarahan terjadi akibat penurunan waktu agregasi
trombosit. Pemeriksaan agregasi trombosit bertujuan mendeteksi
abnormalitas fungsi trombosit. Agregasi trombosit dapat terjadi melalui
perangsangan yang berasal dari dinding pembuluh darah yang terluka (kolagen),
system koagulasi (thrombin), stimulasi trombosit (bahan yang keluar dari reaksi
pelepasan), hormon dalam plasma (adrenalin). Agregasi trombosit memegang
peranan penting dalam patogenesis trombosis akut pada Penyakit Jantung
Koroner (PJK), stroke, dan penyakit arteri perifer. Agregasi trombosit
dapat menstimulasi beberapa agonis yang mempengaruhi reseptornya, termasuk
ADP, epinefrin, kolagen, dan trombin. Komponen seluler yang mempengaruhi
agregasi trombosit dimediasi oleh ikatan fibrinogen dengan reseptor glikoprotein
(GP) IIb/IIIa trombosit.
Pemeriksaan agregasi trombosit dapat
dikerjakan dengan bermacam-macam cara, tetapi yang paling sering dikerjakan adalah
cara turbidimetrik menurut Born yang didasarkan pada perubahan transmisi
cahaya. Agregometer Chrono-Log model 490 adalah alat yang dipakai untuk
pemeriksaan agregasi trombosit berdasarkan prinsip tersebut. Dengan cara
tersebut hasil pemeriksaan agregasi trombosit disajikan dalam bentuk kurva yang
menggambarkan perubahan transmisi cahaya Penilaian
hasil dapat dilakukan dengan menganalisis bentuk kurva agregasi trombosit yaitu
dengan menghitung resentasi transmisi cahaya maksimal. Hasil pemeriksaan
agregasi trombosit tergantung pada jenis dan kadar agonist yang dipakai.
Pada penggunaan ADP sebagai agonist, dengan kadar ADP yang rendah akan
timbul agregasi kemudian diikuti dengan deagregasi. Bila kadar ADP di
tingkatkan, akan dihasilkan agregasi bersifat ireversibel dengan bentuk kurva
yang bifasik. Hal ini terjadi karena proses agregasi primer yang disebabkan oleh
ADP eksogen, diikuti oleh agregasi sekunder yang disebabkan oleh pelepasan ADP
endogen dari trombosit. Dengan kadar ADP yang lebih tinggi lagi akan diperoleh
kurva yang monofasik, karena gelombang primer dan sekunder menjadi satu. Oleh
karena itu pengukuran agregasi trombosit menggunakan kadar ADP tinggi tidak
dapat membedakan trombosit normal dengan hiperaktif.
Sumber : Wirawan, Riadi. 2007. Nilai Rujukan Pemeriksaan Agregasi Trombosit Dengan Adenosis Difosfat Pada Orang Indonesia Dewasa Normal Di Jakarta. Jakarta : Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7.