Identifikasi Fungi Kulit Pada Jambang

  • Identifikasi Jamur

Gambaran makroskopis pada media PDA ditemukan koloni berwarna hitam dengan serabut warna putih

Gambaran mikroskopis rhizopus ditemukan hifa tidak bersekat dan bercabang, dan juga ditemukan akar

  • Taksonomi

Kingdom    : Fungi

Division     : Zygomycota

Class          : Mucoromycotina

Order         : Mucorales

Family       : Mucoracoraceae

Genus        : Rhizopus sp

  • Pembahasan

Pada praktikum identifikasi fungi kulit kali ini ditemukan adanya jamur Rhizopoda sp setelah melalui proses penanaman pada kultur media PDA (Potato dextros agar). Sampel kali ini diambil dari swab pada jambang. Rhizopus sp adalah genus fungi saprofit yang dapat ditemukan di berbagai substrat organik, termasuk buah dan sayuran matang, jeli, sirup, kulit, roti, kacang tanah, dan tembakau. Rhizopus sp secara klinis dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas tipe II dan III seperti asma dan pneumonitis hipersensitivitas. Rhizopus sp dapat ditemukan di jambang dimungkinkan karena ruangan untuk melakukan swab sampel sudah terkontaminasi oleh spora Rhizopus sp, karena spora jamur tersebut mudah tersebar melalui udara. Rhizopus sp pada praktikum ini belum diidentifikasi sampai penentuan spesies, sehingga harus dilakukan penelitian lebih lanjut.

  • Kesimpulan

Dari hasil identifikasi fungi kulit dapat ditarik kesimpulan bahwa ditemukan jamur golongan Rhizopus sp dari swab jambang.

  • Daftar Pustaka

Imaniar, Erin et al. 2013. Kualitas Mikrobiologi Udara di Inkubator Unit Perinatologi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Lampung : Universitas Lampung.

Virgianti , Dewi Peti. 2015. Uji Antagonis Jamur Tempe (Rhizopus Sp) terhadap Bakteri Patogen Enterik. Jawa Barat : Stikes Bakti Tunas Husada,

CARA PENGUMPULAN DAHAK

Tujuan

  1. Mampu melakukan pengumpulan spesimen sputum
  2. Mampu menjelaskan kepada pasien informasi mengenai tindakan pengumpulan sputum
  3. Mampu mengedukasi pasien tentang persiapan dan langkah-langkah yang harus dilakukan agar dapat mendapatkan sediaan sputum yang berkualitas baik

PRINSIP

Pengumpulan dahak dilakukan di ruang terbuka dan mendapat sinar matahari langsung atau di ruangan dengan ventilasi yang baik. Memberitahu pasien untuk Tarik nafas dalam 2 – 3 kali dan setiap kali dihembuskan nafas dengan kuat. Kemudian membuka tutup pot, mendekatkan ke mulut, berdahak dengan kuat dan masukan ke dalam pot dahak. Lalu tutup pot dengan rapat dengan cara memutar tutupnya

ALAT DAN BAHAN

  1. Pot dahak bersih dan kering, diameter mulut pot 4-5 cm, transparan, bening, bertutup ulir. Pot tidak boleh bocor. Sebelum diserahkan kepada pasien, pot dahak harus sudah diberi identitas sesuai identitas/nomor register pada form TB 05.
  2. Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium (TB 05)
  3. Label, pensil, spidol
  4. APD lengkap

CARA KERJA

  1. Pra analitik
  • Mencuci tangan
  • Memakai APD lengkap
  • Menyiapkan pot sputum yang ideal
  • Memberikan label identitas pasien yang jelas pada dinding pot sputum, jangan pada tutup pot sputum
  • Menyapa pasien dengan ramah dan memperkenalkan diri serta mempersilahkan pasien untuk duduk
  • Memberikan informasi kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan meminta persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan
  • Menjelaskan kepada pasien bahwa sputum yang akan diambil sebanyak 3 kali (SPS) sesuai jumlah tabung yang disiapkan (jumlah 3)
  • Menjelaskan kepada pasien tentang kemungkinan hasil yang akan diperoleh

2. Analitik

  • Meminta pasien untuk membatukkan sputum di ruang terbuka dan mendapat sinar matahari langsung atau ruangan dengan ventilasi yang baik, jauh dari orang sekitar untuk mencegah penularan kuman TB.
  • Memberi petunjuk kepada pasien untuk :
  • Berkumur dengan air (jangan ditelan) sebelum sputum dikumpulkan untuk meminimalisir kontaminasi spesimen oleh sisa makanan atau kotoran lain di dalam mulut.
  • Bila pasien memakai gigi palsu, minta pasien untuk melepaskannya.
  • Menarik napas panjang dan dalam sebanyak 2-3 kali dan setiap kali hembuskan nafas dengan kuat.
  • Membuka penutup pot sputum lalu dekatkan pada mulut.
  • Batuk secara dalam untuk mengeluarkan sputum (bukan air liur) dari dalam dada ke dalam pot sputum.
  • Mengulangi sampai mendapatkan sputum yang berkualitas baik dan volume yang cukup (3-5 ml / 1 sendok teh)
  • Segera tutup rapat pot sputum dengan cara memutar tutupnya, kemudian masukkan ke dalam pembungkus atau kantong plastik.
  • Jika sputum sulit dikeluarkan, pasien diberi petunjuk untuk : melakukan olah raga ringan kemudian menarik napas dalam beberapa kali. Apabila pasien merasa akan batuk, napas ditahan selama mungkin lalu meminta pasien untuk batuk
  • Apabila specimen jelek, pemeriksaan tetap dilakukan dengan:
  • Mengambil bagian yang paling mukopurulen / kental kuning kehijauan
  • Memberi catatan bahwa “spesimen tidak memenuhi syarat / air liur”
  • Mengulang pengumpulan sputum apabila spesimen jelas air liur
  • Mengingatkan pasien untuk mengumpulkan sputum ke-2 setelah bangun pagi keesokan hari dan datang lagi untuk membawa.
  • Meminta pasien untuk minum air putih secukupnya pada malam hari sebelum tidur sebagai persiapan untuk pengumpulan sputum ke-2 besok pagi. Jika dahak sulit dikeluarkan, meminta pasien menelan tablet gliseril guaikolat 200 mg pada malam hari sebelum tidur
  • Pot berisi dahak diserahkan kepada petugas laboratorium, dengan menempatkan pot dahak di tempat yang telah disediakan

3. Paska analitik

  • Pastikan pot sputum sudah memiliki label nama
  • Pastikan sputum segera dikirim setelah pengumpulan sputum (sebaiknya tidak lebih dari 24 jam).
  • Selama pengiriman, sputum disimpan dalam cool box.

Sumber :

  1. Standar Operasional Prosedur Pemeriksaan Miroskopis TB. Kementrian Kesehatan RI
  2. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberculosis. 2011. Kementrian Kesehatan RI

PENGENALAN ALAT SPEKTROFOTOMETER

Tujuan       : Mengetahui cara kerja alat spektrofotometer

Prinsip       :

Prinsip kerja spektrofotometer berdasarkan hokum Lambert-Beer, bila cahaya monokromatik ,melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian lagi dipancarkan.

Alat Dan Bahan

  • Alat
  1. Spektrofotometer
  2. Tabung reaksi
  3. Mikropipet
  4. Tip Mikropipet
  • Bahan
  1. Serum
  2. Larutan standar
  3. Blanko total protein

Cara kerja

  1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Menyiapkan sampel, larutan standar, dan blanko dengan menggunakan mikropipet yang kemudian ditaruh pada tabung reaksi
  3. Menyalakan computer dan spektrofotometer
  4. Menekan ikon concentration
  5. Melakukan kalibrasi dengan menekan tombol set up lalu hanya mengubah pada casy, standart, sample
  6. Menuang blanko pada kuvet pegang pada bagian yang kasar, dan lap dengan tissue pada bagian yang halus dengan searah
  7. Klik zero hingga angka menunjukkan 0000
  8. Ambil kuvet lalu tuang blanko pada tabung reaksi semula
  9. Membilas kuvet dengan aquades
  10. Mengisi kuvet dengan larutan standar lalu dimasukkan pada spektrofotometer
  11. Klik star – OK – beri nama sampel – OK
  12. Lihat hasil absorban yang tertera dibawah
  13. Mengeluarkan kuvet lalu bilas dengan aquades lalu lap
  14. Memasukkan sampel dalam kuvet lap dengan tissue dengan arah yang sama
  15. Memasukkan kuvet ke dalam spektrofotometer
  16. Klik OK
  17. Lihat hasil
spektrofotometer
  • Cara perawatan
    • Sebelum digunakan,biarkan mesin warning-up selama 15-20 menit
    • Spektrofotometer sebisa mungkin tidak terpapar sinar matahari langsung,karena dapat mengganggu pengukuran.
    • Simpan Spektrofotometer di dalam ruangan yang suhunya stabil dan di atas meja yang permanen.
    • Pastikan kompartemen sampel bersih dari bekas sampel.
    • Saat memasukkan kuvet,pastikan kuvet kering.
    • Lakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban secara teratur.

Sumber:https://s3-us-west-2.amazonaws.com/oww-filespublic/9/96/Laporan_Praktikum_Biomedik_3_BM_506_kirana_dan_zaki_fix.pdf

PENGENALAN ALAT pH METER

Tujuan       :  Mengetahui cara kerja alat pH meter

Prinsip       :

Prinsip kerja pH meter adalah didasarkan pada potensial elektro kimia yang terjadi antara larutan yang terdapat di dalam elektroda gelas yang telah diketahui dengan larutan yang terdapat di luar elektroda gelas yang tidak diketahui. Hal ini dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan ion hidrogen yang ukurannya relatif kecil dan aktif.

Alat Dan Bahan

  • Alat                                        
  1. Ph meter digital
  2. Gelas beker
  3. Tissue
  • Bahan
  1. Buffer control ph 7
  2. Buffer control ph 4
  3. HCL encer
  4. NaOH encer
  5. Aquades lab imser
  6. Aquadest
  7. Susu kental manis

Cara kerja

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Tancapkan steker ph meter pada stop kontak dan biarkan beberapa menit agar panas terlebih dahulu
  3. Celupkan elektroda bening ke aquades sambil diputar-putar agar homogen dan tunggu sampai di display tertera tulisan ready
  4. Angkat dan lap dengan tissue
  5. Celupkn ke buffer control ph 4 sambil diputar-putar agar homogen dan tunggu sampai di display tertera tulisan ready
  6. Angkat dan lap dengan tissue
  7. Celupkan elektroda bening ke aquades sambil diputar-putar agar homogen dan tunggu sampai di display tertera tulisan ready
  8. Angkat dan lap dengan tissue
  9. Celupkn ke buffer control ph 7 sambil diputar-putar agar homogen dan tunggu sampai di display tertera tulisan ready
  10. Angkat dan lap dengan tissue
  11. Celupkan elektroda bening ke aquades sambil diputar-putar agar homogen dan tunggu sampai di display tertera tulisan ready
  12. Angkat dan lap dengan tissue
  13. Lakukan langkah e sampai f  untuk mengetahui ph dari larutan NaOH encer, HCL encer, susu kental manis, dan aquadest lab imser
  14. Catat hasil pengukuran  
  15. Setelah pengukuran cuci dan bersihkan alat dan bahan
  • Kalibrasi ph meter

Kaliberasi pH meter memang sebaiknya dilakukan menggunakan 3 buffer yaitu buffer asam (biasanya ph 4), buffer netral (pH mendekati 7, kadang ada yang tidak pas 7), buffer basa ( pH sekitar 10). Namun terkadang bisa juga kita gunakan dua buffer saja, cara ini khusus untuk sample yang harga pH nya berada dalam rentang buffer standar, contohnya pH 5, maka digunakan beffer pH 4 dan buffer pH 7, kalau yang harganya belum diketahui atau berada diluar range standar sangat lebih baik gunakan 3 buffer.

  • Pemeliharaan pH meter

Secara teratur (1 kali setiap bulan), elektroda harus dibersihkan dengan larutan pencuci; biasanya larutan 0,1 M Hydrochoric acid (HCl) yang mempunyai pH 1 Larutan ammonium fluoride (NH4F) dapat digunakan jika ujung kaca terlapisi lapisan film. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, selalu merujuk pada petunjuk pembuat elektroda tersebut.

Sumber : https://www.academia.edu/27394171/Prinsip_Kerja_pH_Meter

TES AGREGASI TROMBOSIT

Tujuan

Tujuan pemeriksaan agregasi trombosit adalah untuk mendeteksi abnormalitas fungsi trombosit.

Metode

  • Tes agregasi trombosit (TAT) metode turbidimetrik

Metoda turbidimetrik berdasarkan perubahan transmisi cahaya. Cara ini merupakan metoda pemeriksaan agregasi trombosit yang paling sering dipakai. Bahan yang digunakan adalah Platelet Rich Plasma (PRP). PRP diinkubasi pada suhu 37°C dan diaduk dengan stirrer. Apabila ditambahkan induktor, maka trombosit akan beragregasi sehingga, transmisi cahaya melalui PRP meningkat. Perubahan transmisi cahaya ini dapat direkam dan dicetak, dan dinilai berdasarkan puncak dan bentuk kurva yang terbentuk.

  • Sediaan apus darah tepi

Trombosit dalam keadan normal tidak mudah untuk berlekatan. Hal ini dapat dilihat pada gambaran sediaan apus darah tepi. Namun apabila darah dengan anticoagulan citras tersebut diberi penambahan inductor atau agnist ADP kemudian didiamkan 3 menit dan dibuat sediaan apus darah tepi maka trombosit akan beragregasi dan akan tampak agregat atau kelompok-kelompok trombosit. Setelah melalui pengecatan giemsa dapat dilakukan perhitungan dengan cara mikroskopik.

Nilai Normal

Nilai normal agregasi metode TAT ADP 1, 2, 5 dan 10 μM berturut-turut : 3 – 15% ; 11 – 36% ; 25 – 68% dan 49 – 84%.

Nilai normal agregasi metode apusan darah tepi adalah 50-70%

Alat Dan bahan

  • Alat :
  1. Spuit                          10. Tip

2. Tourniquet                     11. Pipet volumetric 5 ml

3. Tabung reaksi                12. Pipet volumetric 500 ml

4. Pipet                                  13. Stir bar

5. Objek glass                        14. centrifuge

6. Mikroskop                         15. Cup eppendorf 500 ml

7. Counter                             16. Pipet semiotomatik variable 10-100 ml

8. Kuvet                                17. Agregometer chrono-log

9. Tabung vakum natrium citrate 3,8%

  • Bahan :
  1. Darah vena
  2. Cat giemsa
  3. Buffer
  4. Methanol
  5. NaCl 0,9% steril
  6. Reagen komersial yang mengandung 2,5mg ADP lyophilized (chrono-par & chrono-lume)
  7. Larutan ADP konsentrasi 10µM

Pembahasan

Uji agregasi trombosit dilakukan untuk mengukur kemampuan trombosit saat berlekatan satu sama lain ketika bercampur dengan agen pengagregasi, seperti kolagen, ADP atau ristosetin. Uji ini dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas fungsi trombosit dan untuk membantu mendiagnosis defisiensi trombosit herediter. Peningkatan kecenderungan pendarahan terjadi akibat penurunan waktu agregasi trombosit. Pemeriksaan agregasi trombosit bertujuan mendeteksi abnormalitas fungsi trombosit. Agregasi trombosit dapat terjadi melalui perangsangan yang berasal dari dinding pembuluh darah yang terluka (kolagen), system koagulasi (thrombin), stimulasi trombosit (bahan yang keluar dari reaksi pelepasan), hormon dalam plasma (adrenalin). Agregasi trombosit memegang peranan penting dalam patogenesis trombosis akut pada Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke, dan penyakit arteri perifer. Agregasi trombosit dapat menstimulasi beberapa agonis yang mempengaruhi reseptornya, termasuk ADP, epinefrin, kolagen, dan trombin. Komponen seluler yang mempengaruhi agregasi trombosit dimediasi oleh ikatan fibrinogen dengan reseptor glikoprotein (GP) IIb/IIIa trombosit.

Pemeriksaan agregasi trombosit dapat dikerjakan dengan bermacam-macam cara, tetapi yang paling sering dikerjakan adalah cara turbidimetrik menurut Born yang didasarkan pada perubahan transmisi cahaya. Agregometer Chrono-Log model 490 adalah alat yang dipakai untuk pemeriksaan agregasi trombosit berdasarkan prinsip tersebut. Dengan cara tersebut hasil pemeriksaan agregasi trombosit disajikan dalam bentuk kurva yang menggambarkan perubahan transmisi cahaya Penilaian hasil dapat dilakukan dengan menganalisis bentuk kurva agregasi trombosit yaitu dengan menghitung resentasi transmisi cahaya maksimal. Hasil pemeriksaan agregasi trombosit tergantung pada jenis dan kadar agonist yang dipakai. Pada penggunaan ADP sebagai agonist, dengan kadar ADP yang rendah akan timbul agregasi kemudian diikuti dengan deagregasi. Bila kadar ADP di tingkatkan, akan dihasilkan agregasi bersifat ireversibel dengan bentuk kurva yang bifasik. Hal ini terjadi karena proses agregasi primer yang disebabkan oleh ADP eksogen, diikuti oleh agregasi sekunder yang disebabkan oleh pelepasan ADP endogen dari trombosit. Dengan kadar ADP yang lebih tinggi lagi akan diperoleh kurva yang monofasik, karena gelombang primer dan sekunder menjadi satu. Oleh karena itu pengukuran agregasi trombosit menggunakan kadar ADP tinggi tidak dapat membedakan trombosit normal dengan hiperaktif.

Sumber : Wirawan, Riadi. 2007. Nilai Rujukan Pemeriksaan Agregasi Trombosit Dengan Adenosis Difosfat Pada Orang Indonesia Dewasa Normal Di Jakarta. Jakarta : Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7.

reaksi penyabunan (saponifikasi)

REAKSI PENYABUNAN (SAPONIFIKASI)

Tujuan

  • Membuat sabun secara sederhana
  • Mempelajari sifat-sifat sabun

Alat dan Bahan

  • Alat     : a). waterbath

                 b). beaker glass

                          c). batang pengaduk

                          d). kertas saring

                          e).timbangansemi kuantitatif

                          f). corong

                          g). pipet tetes

                          h). tabung reaksi

                          i). pH indikator

  • Bahan : a). minyak goreng

                          b). etanol

                          c). NaOH 25%

                          d). NaCl

                          e). air kran

                          f). aquadest

                          g). larutan sabun

                          h). CaCl 5%

                          i). FeCl3

                                  j).MgCl2

Cara Kerja

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Panaskan air dalam waterbath dengan suhu 1000C selama kurang lebih setengah jam
  3. Pembuatan sabun
  • 5 ml minyak goreng, 5 ml etanol, 5 ml NaOH 25%, dicampur dalam beaker glass 100 ml
  • Aduk dengan batang pengaduk
  • Panaskan dalam waterbath selama kurang leh 20 menit
  • Dinginkan + 37,5 ml NaCl jenuh
  • Saring endapan dengan kertas saring
  • Timbang berat sabun      dengan menggunakan timbangan semi kuantitatif
  • Hitung pH dengan menggunakan pH indikator

4. sifat sabun

Zat pengemulsi

  • Ambil Minyak goreng  sebanyak 5 tetes + 5 ml air, kemudian kocok, amati yang terjadi, apakah bercampu atau tidak
  • Ambil Minyak goreng sebanyak  5 tetes + 5 ml air kran + sedikit sabun, lalu dikocok, amati yang terjadi

5. Reaksi dengan air sadah

  • Sabun dilarutkan dalam 50 ml aquadest, kemudian dihangatkan
  • Tambahkan 5 ml larutan sabun +  2 tetes CaCl­2 5%, lalu kocok. Amati yang terjadi
  • Tambahkan 5 ml larutan sabun +  2 tetes FeCl3 5%, lalu kocok. Amati yang terjadi
  • Tambahkan 5 ml larutan sabun +  2 tetes  MgCl­2 5%, lalu kocok. Amati yang terjadi
  • Tambahkan 5 ml larutan sabun +  2 tetes air kerann, lalu kocok. Amati yang terjadi

sumber :http://rifaisiregar.blogspot.co.id/2015/04/laporan-praktikum-kimia-organik_41.html

http://nurulfathatun.blogspot.co.id/2013/11/laporan-praktikum-saponifikasi.html


IDENTIFIKASI PESTISIDA

Tujuan

Untuk mengidentifikasi adanya cemaran pestisida pada sayuran dan buah.

Prinsip

Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran.  Komponen  yang mudah tertahan pada fase  diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase  gerak akan bergerak lebih cepat.

Alat Dan bahan

  • Sampel yang dicurigai tercemar pestisida
  • Lempeng KLT
  • Pipa kapiler
  • Chamber
  • Lampu UV 254 nm
  • Spray box
  • Aceton, N-hexana, blanko
  • Baku/standard (organofosfat)

Cara kerja

  • Menyiapkan alat dan bahan.
  • Memotong sampel menjadi ukuran yang lebih kecil.
  • Sampel dilakukan menggunkan 2 perlakuan yaitu positif dan negative pestisida. Untuk preparasi sampel negative pestisida : sampel direndam menggunakan fase gerak (aseton : N-hexana = 1:5) selama 24 jam. Untuk preparasi sampel positif pestisida : sampel direndam dengan larutan baku/standard yaitu organofosfat/fipronil selama 10 menit.
  • Menyiapkan chamber yang sudah diisi dengan aseton:N-hexana =1:5, kurang lebih setinggi 1 cm dari bagian bawah.
  • Meletakkan kertas saring dalam chamber, kemudian fase gerak akan merambat ke atas pada kertas saring.
  • Membatasi lempeng KLT dengan ukuran 1,5 cm dari bawah dan 5 cm dari garis tadi.
  • Membuat 3 titik pada batas bagian bawah yang sudah dibatasi.
  • Menotolkan lempeng KLT dengan sampel, standard, dan blanko sebanyak 6 totol menggunakan pipa kapiler.
  • Menunggu lempeng KLT kering.
  • Memasukkan lempeng KLT pada chamber yag sudah disiapkan tadi. Menunggu sampai fase gerak merambat ke atas pada lempeng KLT sampai pada batas atas lempeng.
  • Menunggu lempeng KLT kering.
  • Melakukan spray dengan larutan aseton:N-hexana (1:5) hingga merata pada lemmpeng KLT.
  • Menunggu lempeng KLT kering.
  • Membaca dibawah sinar UV 254 nm.
  • Hasil positif : akan membentuk warna merah keunguan atau merah muda pada sampel yang sama dengan warna golongan organofosfat.
  • Hasil negative : sampel akan membentuk warna yang berbeda dengan warna golongan organofosfat.
  • Menghitung Rf dengan cara

Daftar Pustaka

  • imam haqiqi, sohibul, 2008. Kromatografi Lapis Tipis.
  • Metty. 2016. Identifikasi Kandungan Pestisida Pada Sayuran Organik Di Pasar Modern. Yogyakarta : universitas Respati Yogyakarta

PENGENDALIAN PROSES OUTPUT DALAM SISTEM INFORMASI LABORATORIUM

Pengendalian keluaran (output controls) ialah pengendalian intern untuk mendeteksi jangan sampai informasi yang disajikan tidak akurat, tidak lengkap, tidak mutakhir datanya, atau didistribusikan kepada orang-orang yang tidak berhak. Kemungkinan resiko yang dihadapi yang terkait dengan keluaran ialah seperti telah disebutkan di atas: laporan tidak akurat, tidak lengkap, terlambat atau data tidak uptodate, banyak item data yang tidak relevan, bias, dibaca oleh pihak yang tidak berhak. Dalam sistem yang sudah lebih terbuka (menggunakan jaringan komuni-kasi publik) potensi akses oleh hacker, cracker atau orang yang tidak berwenang lainnya menjadi makin tinggi.

Pengendalian keluaran merupakan pengendalian yang dilakukan umtuk menjaga output sistem agar akurat lengkap, dan digunakan sebagaimana mestinya. Pengendalian keluaran (output controls) ini didesain agar output/informasi disajikan secara akurat, lengkap, mutakhir, dan didistribusikan kepada orang orang yang berhak secara cepat waktu dan tepat waktu. Pengendalian keluaran ini dilakukan untuk menjamin agar output/informasi yang disajikan adalah akurat, lengkap, mutakhir dan didistribusikan kepada orang-orang yang berhak.

Berdasarkan definisi tersebut, pengendalian output dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu:

  • Preventive Objective Control

 Merupakan instruksi (perintah) yang ditempatkan pada dokumen sumber untuk mencegah/menjaga terjadinya kesalahan dalam pengisiannya. Misalnya ialah perlunya disediakan tabel pelaporan: jenis laporan, periode pelaporan, dan siapa pengguna, serta check-list konfirmasi tanda terima oleh penggunanya, prosedur permintaan laporan rutin/on-demand, atau permintaan laporan baru.

  • Detective Objective Control

Merupakan pengendalian ini digunakan untuk menemukan/mengetahui bila terjadi kesalahan data yang di-input di dalam sistem. Misalnya ialah cek antar program pelaporan, perlunya dibuat nilai-nilai subtotal dan total yang dapat diperbandingkan untuk mengevaluasi keakurasian laporan, judul dan kolom-kolom laporan perlu didesain dengan sungguh -sungguh.

  • Corrective Controls

merupakan pengendalian ini digunakan untuk memperbaiki masalah yang ditemukan pada Detective Control. Pengendalian ini terdiri dari program yang menggunakan kode khusus yang dapat memperbaiki data yang rusak/error karena kesalahan pada komunikasi on line. Misalnya ialah prosedur prosedur klaim ketidakpuasan pelayanan, tersedianya help-desk dan contact person, persetujuan dengan users mengenai service level yang disepekati.

Jenis pengendalian output control:

  1. Rekonsiliasi keluaran
  2. Penelaahan dan pengujian hasil pengolahan
  3. Distribusi keluaran
  4. Record retention

Secara umum, fungsi dari output kontrol adalah untuk menekan kerugian yang mungkin timbul akibat kejadian yang tidak diharapkan yang mungkin terjadi pada sebuah sistem.

sumber :

1. http://khoirulanwar-tugas.blogspot.com/2011/11/pengendalian-internal-dan-sia.html

2. https://andrian75.wordpress.com/2012/03/26/pengendalian-output/

PERAN ANALIS DI BIDANG LABORATORIUM KIMIA KLINIK

Laboratorium rumah sakit sendiri masih dibagi menjadi beberapa bagian pemeriksaan. laboratorium hematologi (pemeriksaan darah), laboratorium kimia klinik (pemeriksaan cairan tubuh), laboratorium mikrobiologi (pemeriksaan bakteri dan sejenisnya), laboratorium patologi dll. sekarang saya akan berbagi informasi tentang laboratorium kimia klinik.

Mungkin saat ini sudah banyak alat-alat pemeriksaan canggih yang dijual dipasaran, alat cek hb, cek kolesterol, cek asam urat  dsb. siapa saja bisa menggunakanya. Terkadang ada yang bertanya, alat2 canggih sudah beredar, setiap orang bisa menggunakanya, alat2 dirumah sakit pun sudah canggih, asalkan bisa mengoperasikan alat tersebut siapa saja bisa menjadi analis? Berarti analis sudah tidak diperlukan lagi? Hal ini merupakan pendapat salah besar.

Supaya specimen cairan tubuh (darah, urin, dll)  tersebut bisa diperiksa di dalam mesin tersebut, darah pasien yang sudah diambil harus melalui tahap2 yang bisa dibilang tidak mudah, jika terjadi kesalahan pada tahap pra analitik, maka komponen darah akan rusak dan jika sudah rusak, mau secanggih apapun alatnya hasilnya bakal salah total,jika hasil salah, maka perkiraan pengobatan pun juga tidak tepat,..jadi tidak sembarang orang bisa memeriksa. Belum lagi pemeriksaan sebelum operasi dan sesudah operasi. ada yang pernah mendengar pemeriksaan kanker?. Untuk memeriksa kanker, HIV-AIDS, TBC dan beberapa penyakit berat lainnya, tidak bisa diperiksa menggunakan alat2 otomatis yang tinggal program lalu jalan dan hasilnya keluar sendiri. Hal tersebut tidak bisa dan tentunya membutuhkan tenaga seorang analis untuk memeriksanya.

Laboratorium kimia klinik bisa dibilang salah satu laboratorium yang modern dan canggih dibandingkan laboratorium lain (mikrobiologi dkk) karena di laboratorium ini, terdapat alat2 modern. Namun,  seperti yang sudah dijelaskan tadi, siapa saja bisa mengoperasikan, tetapi agar darah pasien bisa diperiksa diperlukan tahapan manual atau tahap pra analitik yang tidak mudah. Tahap pra analitik tidak bisa digantikan oleh mesin, karena membutuhkan kehati-hatian untuk memisahkan komponen darah yang diperlukan dan yang tidak diperlukan. Setelah tahap pra analitik tadi selesai, barulah cairan hasil pemisahan dari darah tadi baru bisa dimasukan ke dalam alat yang dimaksud tadi. Jadi, analis itu profesi yang butuh ketelitian dan kejujuran karena pemeriksaan tersebut berkaitan dengan nyawa seseorang. Hal ini baru di laboratorium kimia klinik , belum lagi bagian laboratorium yang lain. Sehingga kurang lebih seperti itulah kegiatan seorang analis di laboratorium kimia klinik.

sumber :http://wawahyuas.blogspot.com/search/label/Analis%20Kesehatan

APA SIH ANALIS KESEHATAN ITU?

Analis kesehatan adalah salah satu profesi kesehatan yang yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan, pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan bukan berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan atau faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat. Oleh karena itu secara umum analis kesehatan adalah salah satu profesi kesehatan yang bekerja di sebuah laboraroium kesehatan.

Apa bedanya analis kesehatan dengan Ahli Teknologi Laboratorium Medik?

Ahli Teknologi Laboratorium Medik merupakan nama lain dari analis kesehatan, yakni salah satu profesi kesehatan yang bekerja dan bertanggungjawab di laboratorium. Menurut KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKES/SK/III/200, Analis Kesehatan atau disebut juga Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan adalah tenaga kesehatan dan ilmuan berketerampilan tinggi yang melaksanakan dan mengevaluasi prosedur laboratorium dengan memanfaatkan berbagai sumber daya.

Apa aja sih yang dipelajari di analis kesehatan?

Analis kesehatan memiliki cakupan pemeriksaan yang luas antara lain pemeriksaan mikrobiologi (bakteri), parasitologi (fungi, protozoa, cacing), hematologi (sel-sel darah serta plasma), imunologi (antigen, antibodi), kimia klinik (hormon, enzim, glukosa, lipid, protein, elektrolit, dll), toksikologi klinik, virology (virus) dll. Sarana kesehatanuntuk analis kesehatan berbentuk Laboratorium Kesehatan seperti Laboratorium Patologi Klinik dan Laboratorium Patologi Anatomi. Laboratorium Patologi Klinik yang memeriksa sampel berupa cairan2 tubuh manusia seperti darah, sputum, faeces, urine, liquor cerebro spinalis (cairan otak), dan lain-lain untuk mendapatkan data atau hasil sebagai penegakan diagnosa terhadap suatu penyakit.  Sedangkan untuk Laboratorium Patologi Anatomi seorang analis bertugas untuk membuat sediaan preparat dari sampel bagian organ tubuh (biasanya  yang diambil setelah operasi) kemudian dibaca oleh seorang dokter.

Kerjaan analis kesehatan ngapain aja sih?

Jika kalian pernah pergi ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, kadang kalian disuruh dokter untuk check laboratorium diambil darahnya atau disuruh kencing, dll. Nantinya darah atau air kencing kalian ditaruh di suatu tempat untuk dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Nah disini tugas seorang analis kesehatan untuk memeriksa.

Ambil darah? Bukannya seorang perawat juga bisa?

mungkin perawat, dokter, bahkan ahli kesehatan lain bisa, tetapi analislah yang terlatih dan mempunyai kewenangan bahkan sertifikat untuk memeriksa yang demikian. Walaupun yang berhak menyimpulkan hasil akhir adalah dokter.

Bukannya yang memeriksa itu adalah tugas seorang dokter ya?

Memang yang memeriksa adalah seorang dokter, tetapi biasanya seseorang setelah diperiksa diberi kertas hasil pemeriksaan, nah kertas hasil pemeriksaan itu dari laboratorium, yang memeriksa dan menulis hasil tersebut adalah seorang analis kesehatan. Oleh karena itu salah satu tugas seorang analis kesehatan adalah membantu dokter dalam mendiagnosa suatu penyakit. Makannya kerjaan analis cuma di balik layar karena tidak bertemu secara langsung dengan pasien tapi fungsi analis kesehatan sangat penting. Sebuah pekerjaan yang beresiko tinggi. Harus teliti, dan berhati-hati. Karena selain hasil yang harus dipertanggungjawabkan kita juga berhadapan dengan spesimen yang bisa saja menularkan penyakit. Mulai dari penyakit ringan sampai yang fatal seperti hepatitis dan HIV.

sumber : http://wawahyuas.blogspot.com/search/label/Analis%20Kesehatan